Allah akan memberi balasan kepada orang yang sabar

 

wa-in yukadzdzibuuka faqad kuthtsibat rusulun min qablika wa-ilaallaahi turja’u l-umuur ( QS. Faathir:4 )

Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan), maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Faathir 4

Pada ayat ini Allah SWT menghibur Nabi Muhammad saw, bahwa kalau kaumnya mendustakannya terus menerus atas kebenaran yang disampaikannya sesudah ia mengemukakan alasan-alasan dan tamsil ibarat kepada mereka, maka hendaklah ia bersabar sebagaimana halnya Rasul-rasul sebelumnya yang selalu disakiti oleh kaumnya, sampai tiba saatnya ia mendapat kemenangan sesuai dengan ketentuan Allah yang telah dijanjikannya, dan kepada Allah-lath ia hendaknya mengembalikan segala urusan, Allah SWT akan memberi balasan atas kesabarannya dan imbalan siksa kepada kaumnya yang selalu mendustakan-Nya.

Janji – janji muluk setan

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا

 Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.

 

 

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa’ 120

 

Setan selalu menjanjikan janji yang muluk-muluk dan menimbulkan angan-angan kosong serta menimbulkan khayalan-khayalan di dalam hati dan pikiran manusia.

Jika seseorang ingin bernafkah di jalan Allah dibisikkannyalah kepada orang itu bahwa bernafkah itu mengakibatkan kemiskinan, dan dijanjikan kesenangan dan kemuliaan bila manusia itu kikir.

Kepada penjudi diangan-angankan kebahagiaan dan kekayaan tanpa usaha, kepada peminum khamar dibisikkannya kegemhiraan dan kesenangan bila seseorang telah mabuk dan sebagainya.

Termasuk di dalam janji setan itu ialah janji dan angan-angan yang ditanamkan kepada orang-orang yang mau melanggar larangan-larangan Allah untuk kepentingan dirinya seperti pangkat, kehormatan dan sebagainya.

Janji setan itu tidak lain hanyalah tipuan belaka; tidak ada satupun yang akan dapat ditepatinya dan tidak dapat diharapkan hasilnya sedikitpun, seperti janji dan angan-angan yang ditanamkan kepada penjudi,

Peminum khamar, pezina, orang yang gila pangkat dan gila kehormatan. Mereka mengkhayalkan kesenangan dan kebahagiaan dari hasil perbuatan mereka itu, tetapi hasil itu tidak pernah mereka nikmati.

Doa Muhammad saw kepada kaum musyrik Mekah dalam perang Badar

 

قَالَ رَبِّ احْكُمْ ‎بِالْحَقِّ وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ   Al-Anbiyaa' سورة الأنبياء 112  
[21.112] (Muhammad) berkata: “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan”.

 

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa’ 112

 

قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّ وَرَبُّنَا الرَّحْمَنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

Karena orang-orang musyrik Mekah, semakin hari bertambah-tambah kelaliman mereka, maka Muhammad saw. berdoa kepada Tuhan agar Dia segera menimpakan azab kepada mereka. Permohonan Muhammad ini dikabulkan Allah dengan kekalahan orang-orang musyrik dalam Perang Badar. Berkata Qatadah: Para nabi dahulu berdoa”:

“ربنا افتح بيننا وبين قومنا بالحق وأنت خير الفاتحين”

Artinya :

“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya”. (Q.S Al A’raf: 89)

Maka Rasulullah saw. diperintahkan Allah pula mengucapkan doa yang demikian itu.
Berdoa hanya kepada Allah saja, karena Dialah yang paling sempurma rahmat dan karunia-Nya hanya kepada-Nya sajalah diserahkan pembalasan kejahatan orang kafir yang mereka lakukan terhadap orang muslim.

Allah tidak menghendaki hamba Nya kafir

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ   An-Nahl سورة النحل 36  
[16.36] Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

 

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nahl 36

 

Kemudian daripada itu Allah SWT menjelaskan bahwa para Rasul itu diutus sesuai dengan Sunatullah, yang berlaku pada umat sebelumnya. Mereka itu adalah pembimbing manusia ke jalan yang lurus.

Bimbingan Rasul-rasul itu diterima oleh orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dan menyampaikan mereka kepada kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat, akan tetapi orang-orang yang bergelimang dalam kemusyrikan dan jiwanya dikotori oleh noda noda kemaksiatan tidaklah mau menerima bimbingan Rasul itu.

Allah SWT menjelaskan bahwa Dia telah mengutus beberapa utusan kepada tiap-tiap umat yang terdahulu, seperti halnya Dia mengutus Nabi Muhammad saw kepada umat manusia seluruhnya.

Oleh sebab itu manusia hendaklah mengikuti seruannya, yaitu beribadat hanya kepada Allah SWT yang tidak mempunyai serikat dan larangan mengingkari seruannya, yaitu tidak boleh mengikuti tipu daya setan yang selalu-menghalang-halangi manusia mengikuti jalan yang benar.

Setan-setan itu selalu mencari-cari kesempatan untuk menyesatkan manusia.

Allah SWT berfirman: Artinya:

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (Q.S Al Anbiya’: 25)

Dan firman Nya lagi: Artinya:

Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukun Tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”. (Q.S Az Zukhruf: 45)

Dari uraian tersebut dapatlah dipahami bahwa secara yuridis Allah tidak menghendaki hamba Nya menjadi kafir, karena Allah SWT telah melarang mereka itu mengingkari Allah.

Larangan itu telah disampaikan melalui Rasul-Nya. Akan tetapi apabila ditinjau dari tabiatnya, maka di antara hamba Nya mungkin saja mengingkari Allah, karena manusia telah diberi pikiran dan diberi kebebasan memilih sesuai dengan kehendaknya.

Maka takdir Allah berlaku menurut pilihan mereka itu. Maka apabila ada di antara hamba Nya yang tetap bergelimang dalam kekafiran dan dimasukkan ke neraka Jahanam bersama sama dengan setan-setan mereka, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah, karena Allah telah cukup memberikan akal pikiran serta memberikan pula kebebasan untuk memilih dan menentukan sikap jalan mana yang harus mereka tempuh.

Sedang Allah sendiri tidak menghendaki apabila hamba Nya itu menjadi orang-orang yang kafir. Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa Allah telah memperingatkan sikap hamba Nya yang mendustakan kebenaran Rasul. Dengan mengancam mereka akan memberikan hukuman di dunia apabila setelah datang peringatan dari Rasul, mereka tidak mau mengubah pendiriannya.

Allah SWT menjelaskan bahwa setelah mereka kedatangan Rasul ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan diberi taufik karena mereka telah mempercayai Rasul, menerima petunjuk-petunjuk yang dibawanya serta suka mengamalkan petunjuk-petunjuk itu.

Mereka inilah orang-orang yang berbahagia dan selamat dari siksaan Allah. Akan tetapi di antara mereka ada pula yang benar-benar menyimpang tidak mau mengikuti petunjuk Rasul Nya, dan mengikuti tipu daya setan-setan, maka Allah membinasakan mereka dengan hukuman Nya yang sangat pedih.

Dan Allah menurunkan pula berbagai macam bencana yang tidak dapat mereka hindari lagi. Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada mereka agar berkelana di muka bumi serta menyaksikan negeri-negeri yang didiami oleh orang-orang zalim.

Kemudian mereka disuruh melihat bagaimana akhir kehidupan orang-orang yang mendustakan agama Allah.

Di dalam ayat ini Allah SWT menyuruh manusia agar mengadakan penelitian terhadap sejarah bangsa yang lain dan membandingkan di antara bangsa-bangsa yang menaati Rasul dengan bangsa-bangsa yang mengingkari seruan Rasul agar mereka dapat membuktikan bagaimana akibat dari bangsa-bangsa itu.

Hal ini tiada lain hanyalah karena Allah menginginkan agar mereka itu mau mengikuti seruan Rasul dan melaksanakan seruannya.

Peringatan Allah kepada kaum muslimin yg merasa berat berjihad

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلا رَسُولِهِ وَلا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ   At-Taubah سورة التوبة 16  
[9.16] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 16

Pada ayat ini Allah memberikan peringatan yang sangat penting kepada kaum Muslimin yang disebabkan sesuatu hal sudah merasa berat untuk memerangi lagi orang-orang musyrikin, yaitu Allah menjelaskan maksudnya ialah bahwa Allah mengajak dan mendorong mereka supaya berpikir dan mempertimbangkan dengan penuh kesadaran dan keinsafan tentang hal-hal berikut:

a. Apakah mereka sudah sungguh-sungguh melaksanakan jihad selama ini sebagaimana mestinya?

b. Apakah orang-orang musyrik tidak akan memerangi mereka lagi dan tidak akan melanggar sumpah perjanjian sebagaimana yang biasa mereka lakukan?

c. Apakah orang musyrik tidak akan mencerca agama Islam lagi dan menghalang-halangi orang untuk menganutnya sebagaimana mereka lakukan semenjak lahirnya agama Islam.

d. Apakah kaum muslimin sudah lupa tingkah laku orang-orang munafik yang menikam Nabi dan kaum muslimin dari belakang?

e. Apakah orang-orang muslimin dibiarkan saja tanpa mendapat cobaan dan ujian tanpa diketahui siapa-siapa yang benar-benar beriman dan berjihad di jalan Allah dan tidak mengambil orang-orang musyrikin menjadi teman kepercayaan?

Jadi ayat ini menerangkan kepada kaum muslimin bagaimana seharusnya mereka, yaitu harus tabah menghadapi segala macam cobaan dan ujian, tidak boleh merasa cepat puas dari hasil yang sudah dicapai dan tidak boleh pula malas dan bosan untuk meneruskan jihad, mereka juga harus mengetahui kewajiban menjaga dan waspada terhadap segala tipu daya musuh, dan tidak boleh menjadikan mereka teman yang akrab.

Hal ini sudah banyak diperingatkan di dalam Alquran, antara lain firman Allah Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi”. (Q.S. Ali Imran: 118)

Selanjutnya pada akhir ayat diterangkan, bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan orang-orang muslim dalam melaksanakan perintah berjihad dan apa yang terkandung dalam hati mereka, dan oleh karena itulah diperintahkan supaya mereka mematuhi petunjuk dan perintah Allah sebaik-baiknya.